Membanguan rumah/bagunan tahan gempa, siapa bilang mahal!

Artikel

Apakah membangun rumah atau banguan yang nyaman, indah dan kuat dan tahan gempa harus menghabiskan dana yang besar?. Ternyata tidak juga, dengan dana terbatas kita bisa membangun rumah atau banguan yang nyaman, indah, kuat, tahan gempa bahkan unik . Bagaimana caranya?

Pemilihan Material

Pertimbangan pemilihan material adalah harga, kekuatan (daya tahan), kemudahan perawatan atau bahkan bebas perawatan. Sebagai contoh, kuda-kuda baja ringan memang sedikit lebih mahal dari kuda-kuda kayu, namun lebih tahan lama dan bebas perawatan, sehingga lebih ekonomis.

Penggunaan conblock (hebel) sebagai pengganti bata, dengan ukurannya yang besar dan lebih presisi pemasangan conblock lebih cepat daripada bata, selain itu conblock juga lebih hemat adukan. Perlu diketahui conblock berbeda dengan batako, memang bentuknya sama tapi bahannya berbeda, conblok menggunakan bahan beton, yaitu pasir, split dan semen. Sementara batako tidak menggunakan semen, hanya pasir dan tras/ kapur, sehingga dapat disimpulkan bahwa conblock lebih kuat daripada bata dan batako. Ada juga bata ringan seperti hebel, namun harganya lebih mahal dan memerlukan adukan mortar khusus untuk pemasangannya.

Material alternatif lainnya yang relatif murah adalah material bekas. Di berbagai kota khususnya jakarta  banyak ditemui penjual material bekas ini. Harganya lumayan murah, bisa lebih murah hingga 50% dibanding material baru. Material bekas yang biasa saya gunakan adalah genteng, kayu, besi beton (untuk pekerjaan non structural), bahan penutup lantai seperti marmer, granit atau ubin tanah liat yang antik. Khusus untuk kayu  saya lebih suka menggunakan yang bekas, karena kayunya berkualitas baik, kering, sehingga muai atau susutnya rendah. Untuk besi beton hanya begel yang menggunakan besi bekas atau rangka besi beton untuk kolom praktis.

Yang perlu diperhatikan saat membeli material bekas adalah; pastikan anda membeli material sesuai kebutuhan lebih baik lagi bila dilebihkan, karena apabila kurang akan sulit mencari barang yang sama.

Untuk material seperti handel pintu, kunci, slot dan engsel sebaiknya menggunakan produk yang berkualitas bagus, agar tidak mudah rusak, patah atau macet.

Finishing juga sangat berpengaruh terhadap biaya. Ada kalanya saya membiarkan dinding tidak diaci halus, tetapi cukup diplester saja, atau bahkan diekspos bata atau conblocknya. Apabila penempatannya tepat itu akan menjadi elemen estetis pada rumah.

Desain

Desain sebisa mungkin harus simple, bentuk denah diusahakan cenderung berbentuk kotak sehingga lebih memudahkan untuk mendesain bentuk atap. Bentuk denah yang berliku-liku akan menyulitkan dalam mendesain bentuk atap. Bentuk atap yang simpel juga lebih minim sambungan dan talang sehingga  tidak ada resiko bocor, yang biasanya terjadi di talang, jurai dan ampig.

Model bangunan minimalis? Memang saat ini sedang menjadi trend, namun hanya modelnya yang minimalis, tetapi biayanya maksimalis, karena modelnya dipaksakan agar minimalis. Form follow function- bentuk mengikuti fungsi, itulah yang menurut saya lebih tepat dikatakan minimalis, hilangkan elemen bangunan yang tidak perlu. Jadikan struktur dan material sebagai elemen dekoratif. Lebih bijak bila tidak mengikuti trend, karena bila mengikuti trend lima atau sepuluh tahun ke depan rumah kita akan ketinggalan mode.

Tenaga Kerja

Mungkin sedikit kontradiksi, agar biaya tenaga kerja murah sebaiknya pilih tukang yang bayarannya mahal. Karena tukang yang bayarannya mahal adalah tukang yang terampil sehingga dapat bekerja lebih cepat, rapi dan jarang sekali melakukan kesalahan yang mengharuskan pekerjaan dibongkar ulang. Bila perlu berikan bonus kepada tukang bila dia bekerja melampaui target. Lalu yang terpenting pilihlah tukang sesuai dengan pekerjaan, misalkan tukang batu, tukang kayu, tukang cat, dll. Jangan menggunakan tukang yang itu – itu saja untuk semua pekerjaan karena hasilnya tidak akan maksimal.

Manajemen ( Pengawasan) Proyek

Ini yang terpenting dalam pembangunan. Secara sederhana adalah: Planning-Budgeting-Monitoring, yaitu merencanakan, menganggarkan biaya, mengawasi pelaksanaan agar sesuai dengan rencana dan anggaran.

Agar biaya pembangunan dapat ditekan semua proses harus dilakukan secara ketat, baik dari pengadaan material, penggunaan material,  dan waktu pelaksanaan. Sedikit saja meleset akan berpengaruh banyak terhadap biaya.

Jadi, kapan anda akan membangun rumah atau banguan anda?

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Konsep Perencanaan Apartemen

Konsep Perencanaan Apartemen

Sejak akhir tahun 2009 hingga sekarang saya terlibat di dalam pra perancangan dan pembangunan sebuah apartemen yang berlokasi di Jl. Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan, dengan nama Apartement XXI Residence yang di kembangkan oleh PT Permata Raya Pratama, sebagai Tehnik Manager di perusahan tersebut saya terlibat dalam mengatur dan merencanakan pra konstruksi, dari membuat studi kelayakan bisnis sampai membantu mempresentasikan kepada investor untuk mewujudkan konsep perencanaan yang kami buat.

Pembangunan Apartemen di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional yang telah dilaksanakan beberapa dekade ini. Perkembangan pembangunan apartemen Indonesia yang demikian pesat membawa berbagai perubahan besar pada berbagai aspek kehidupan, baik dari segi lingkungan, fisik, ekonomi, sosial budaya, maupun politik.

Dari segi fisik pembangunan apartemen, misalnya berupa perluasan kota atau daerah, pertumbuhan kota baru, perkembangan wilayah baru, baik desa, kecamatan, kabupaten, sampai ke pemekaran propinsi. Dari segi ekonomi, timbul demand baru terhadap berbagai keperluan hidup yang dulunya belum terpikirkan. Dalam bidang sosial budaya dan politik, masyarakat menjadi lebih individualis, kritis dan ekpresif. Semua perubahan itu menjadi semakin cepat karena pembangunan transportasi dan komunikasi yang dilaksanakan di Indonesia membuat semua perkembangan tersebut menjadi lebih cepat dan mudah.

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan apartemen yang lebih harmonis pada masa yang akan datang, dan dalam rangka mencegah berbagai dampak yang timbul, perlu dikembangkan berbagai pendekatan yang bersifat interdisiplin, yang mencakup :
- Kebijaksanaan pengembangan mengenai pengendalian pembangunan apartemen yang  berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
- Pemanfaatan sumber daya alam, lahan, air dan udara secara bijaksana.
- Pengembangan sistem informasi dan evaluasi apartemen yang dinamis dan multi sektor.
- Peningkatan pengembangan institusi pelayanan (services organization) dalam menunjang pembangunan apartemen yang bertumpu kepada masyarakat (community development),
- Terciptanya manajemen pembangunan apartemen yang terarah, terstruktur, dan terencan secara adil dan bijaksana.

Apartement XXI Residence adalah apartemen yang dikembangkan atau di rencanakan diatas tanah 7.200 m2 yang terletak di Jl. Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan. dengan kelebihan sebagai berikut :

Easy Acccess, Berada tepat di segitiga emas, pusat kota Jakarta, hanya beberapa langkah dari jalan HR rasuna Said dan Sudirman serta Lokasi sangat strategis dan mudah diakses dari segala arah seperti dari Kawasan Bisnis Kuningan, Jl. Raya TB Simatupang dan Jl.Kemang Raya. Hal ini juga sangat tertutup dengan gerbang tol TB Simatupang (JORR).

Easy to Live, Rasakan mudahnya hidup di Apartement XXI Residence, segala fasilitas lifestyle exclusive seperti : sauna, spa, jacuzzi, library, business center dan child care, tempat parkir, kedai kopi, pusat kebugaran, kolam renang, taman bermain, jogging track, laundry, kafe & restoran, salon & spa, toko obat, ruang surat, pusat bisnis, mini market dan dikelilingi dengan mal dan tempat-tempat untuk bersantai seperti Kemang, Citos, Pejaten Desa dll

Apartment XXI Residence diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Jika di dunia belanja kita tahu ‘Stop Shopping “, di dunia perumahan kita menciptakan” Smart Living “konsep makna hidup semua bertanya disediakan di satu lokasi. Bukan hanya nuansa nyaman hidup, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas untuk menampung kegiatan sehari-hari mereka seperti, pusat perbelanjaan, pusat olahraga, caffes dll Kami menawarkan semua kenyamanan mungkin dan menikmati hidup dalam satu wilayah. Fasilitas yang ditawarkan disesuaikan dengan gaya hidup orang tua dan anak muda diharapkan dapat memenuhi kebutuhan baik penghuni dan pengunjung.

Kalkulasi Penggunaan Pembanguan Apartemen XXI Residence pada prinsipnya sesuai dengan rencana pembanguan wilayah Jakarta Selatan lokasi tersebut sebagai pemukiman dan bisnis.

Faktor yang sangat mendukung lokasi proyek adalah letaknya di jalan Warung Buncit Raya, factor inilah yang mendasari pertimbangan pembanguan Apartement XXI Residence di daerah tersebut dengan rekomendasi SIPPT No. 618/0-9/SIPPT/P&PP/2009.

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan Apartemen XXI Residence yang lebih harmonis pada masa yang akan datang, dan dalam rangka mencegah berbagai dampak yang timbul, perlu dikembangkan berbagai pendekatan yang bersifat interdisiplin, yang mencakup :

- Kebijaksanaan pengembangan mengenai pengendalian pembangunan apartemen yang    berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
- Pemanfaatan sumber daya alam, lahan, air dan udara secara bijaksana.
- Pengembangan sistem informasi dan evaluasi apartemen yang dinamis dan multi sektor.
- Peningkatan pengembangan institusi pelayanan (services organization) dalam menunjang pembangunan apartemen yang bertumpu kepada masyarakat (community development),
- Terciptanya manajemen pembangunan apartemen yang terarah, terstruktur, dan terencan secara adil dan bijaksana.

Lingkup rencana Induk Pembanguan Apartemen XXI Residence ini terdiri dari lingkup wilayah dan lingkup materi sebagai berikut :

a. Lingkup Wilayah
Pembangunan Apartemen XXI Residence mecakup sebagai berikut :

LOCATION              : JL WARUNG BUNCIT JAKARTA SELATAN
PLANNING AREA  : 7.261 M2
SIPPT                        : NO. 956 / -1.711.534
KDB                            : 50%
KLB                            : 4,1
HEIGHT                    : 24 LANTAI

b. Lingkup materi
Materi Pembangunan Apartemen XXI Residence mecakup sebagai berikut :
Konsep dasar pengembangan apartemen yang meliputi struktur tata ruang, tataguna lahan dan model/arsitektur aparteman XXI Residence.

Rencana Prasarana Apartemen XXI Residence yang meliputi : Basement, jaringan jalan, system drainase, penyediaan air bersih, pengolahan sampah, distribusi listrik dan jaringan telekomunikasi dll.

Rencana Sarana Apartement XXI residence yang meliputi : Fasilitas umum dan fasilitas social, pasilitas tersebut antara lain : Kolam renang, tempat bermain, taman, pedestrian dan tempat olahraga lainya.

Mengenai kondisi tata ruang lahan dalam perencanaan pembangunan Apartemen XXI Residence disesuaikan dengan ketentuan yang di keluarkan oleh dinas tata ruang DKI Jakarta dengan rincian sebagai berikut :

Perhitungan KDB : 1.823.8 M2

Perhitungan KLB  : (29.729,7M2+3.015,8M2+5.400,9)+(13.839,6-50%X25.408,77)X85%
: (38.146,4M2 + 1.135,21)X85%
: 33.389,36 M2

Kebutuhan Parkir :

HUNIAN 70-90M2 10 UNIT : 2 MBL = 5 MOBIL
HUNIAN <70M2 784 UNIT : 5 MBL   = 156 MOBIL
JUMLAH                                                   = 161 MOBIL

Kebutuhan Tata Letak Bangunan :

1.   Luas Daerah Perencanaan 7.259,65 M2
2.   Luas Lantai Dasar Bangunan 1.823,80 M2
3.   Luas Seluruh Lantai bangunan 33.389,36 M2
4.   Koefesien Dasar banguan (KDB) 25,12 %
5.   Koefesien lantai Bangunan (KLB) 4,2
6.   Ketinggian Banguanan 23 Lantai
7.   Parkir 255 Mobil
8.   Koefesien Dasar Hijau (KDH) 25,69 %
9.   Koefesien Tapak Basement (KTB) 72.01 %
10. Penggunaan Hunian & Fasilitasnya

Untuk Jaringan jalan di rencanakan untuk mendukung sirkulasi di dalam area Apartemen XXI Residence, baik di dalam maupun keseluruhan dari kawasan Apartemen.

Rincian Jaringan jalan yang di rencanakan (ROW).
- Jalan Masuk/utama : 10 Meter
- Jalan Lingkungan : 7 – 8 Meter

Pembanguan Apartemen XXI Residence yang kembangkan oleh PT Permata Raya Pratama akan mengembangkan lahan seluas 7.259,65 M2, Kondisi tanah merupakan tanah miring kemudian datar dan sebagian relative rata dongan kondisi tanah yang baik untuk pembanguan apartemen.

Apartment XXI Residence diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Jika di dunia belanja kita tahu ‘Stop Shopping “, di dunia perumahan kita menciptakan” Smart Living “konsep makna hidup semua bertanya disediakan di satu lokasi. Bukan hanya nuansa nyaman hidup, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas untuk menampung kegiatan sehari-hari mereka seperti, pusat perbelanjaan, pusat olahraga, caffes dll Kami menawarkan semua kenyamanan mungkin dan menikmati hidup dalam satu wilayah. Fasilitas yang ditawarkan disesuaikan dengan gaya hidup orang tua dan anak muda diharapkan dapat memenuhi kebutuhan baik penghuni dan pengunjung.

Dalam perkembangan Pra perencaanaan perencanan telah berganti konsep dan berganti perencana
Kesep pertama dengan konsep kondotel + apartemen yang di buat rencanakan oleh renik dengan betuk huruf T

Konsep kedua dirubah oleh saya dengan konsep Z dengan konsep zig-zag namun konsep ini tidak sesuai dengan peruntukan dari tatakota dengan besaran yanhgtidak sesuai dengan ketentuan tata kota DKI Jakarta

Konsep ketiga dirombak untuk mengikuti anjuran yang di buat tatakota karena secara peruntukan apartemen menjadi kecil karena harus mengikuti anjuran pemerintah kota yang mengharuskan garis hijau harus 25 % dari luas site akhirnya tebetuk konsep dibawah ini dengan ke posisi semula hamper mirip dengan hurup h dengan perencana dari artepak dan saya membuat kelaayakan bisnis projek tersebut dan member arahan kepada perencana dalam merencanakan apartemen tersebut.

Namun demikian dalam pelaksanakan perencanaan pembangunan Apartemen XXI Residence selalu dan akan perhatikan aspek-aspek dalam pembangunan yaitu :

Aspek Ekonomis
Pertimbangan ekonomis adalah suatu hal yang sangat terpenting dalam suatu pekerjaan proyek sehingga dapat memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Aspek Teknis
Aspek teknis dalam pekerjaan yang dilakukan adalah dengan melihat pada standar yang dibuat oleh perencana dalam hal ini alat dan metoda kerja yang harus dipehatikan sedetil dan sebaik mungkin.

Aspek Hukum
Aspek hukum dalam harus pula melihat kaidah konstrusi seperti perlindungan pekerja dalam hal ini masalah hukun dan kenyamanan dalam bekerja.

Aspek Sosial Politik dan Budaya
Aspek ini dalam pembanguan harus mempertimbangkan kondisi sosial budaya tempat dimana pembangunan dilaksnakan harus melihat lingkungan di sekitar pembanguna proyek sehingga masyarakat tidak di rugikan secara moril maupun materil justru harus mendatangkan income atau royalti bagi masyarakat sekitarnya.

Aspek Keamanan
Aspek ini penting karena meyangkut kenyamanan dalam bekerja, keamanan dalam suatu proyek harus sebaik mungkin untuk memberikan kenyamanan dan rasa tenang dalam bekerja untuk itu dibuat suatu sistem keamanan dengan baik.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ilmu Arsitektur

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Ruang lingkup dan keinginan

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Arsitektur adalah bidang multi-dispilin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni”. Ia pun menambahkan bahwa seorang arsitek harus fasih di dalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, fenomenologi strukturalisme, post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang mempengaruhi arsitektur.

Teori dan praktek

Pentingnya teori untuk menjadi rujukan praktek tidak boleh terlalu ditekankan, meskipun banyak arsitek mengabaikan teori sama sekali. Vitruvius berujar: “Praktek dan teori adalah akar arsitektur. Praktek adalah perenungan yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya dengan tangan, dalam proses konversi bahan bangunan dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi bahan bangunan menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang berpraktek tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada “bayangan” dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan”.

Sejarah

Untuk lebih jelas lihat artikel utama: Sejarah arsitektur

Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia.

Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.

Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual – Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci – dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.

Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah “arsitek priyayi” yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.

Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.

Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi.

Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai “master”. Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi.

Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa “gubuk berhias / decorated shed” (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah “bebek / duck” (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.

Sebagian arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan menggunakan teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat ditempati. Design Methodology Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.

Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain.

Kesimpulan

bangunan adalah produksi manusia yang paling kasat mata. Namun, kebanyakan bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu di negara-negara berkembang, atau melalui standar produksi di negara-negara maju. Arsitek tetaplah tersisih dalam produksi bangunan. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe bangunan yang rumit, atau bangunan yang memiliki makna budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur. Peran arsitek, meski senantiasa berubah, tidak pernah menjadi yang utama dan tidak pernah berdiri sendiri. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan sang arsitek. Dan hasilnya adalah sebuah dialog yang dapat dijuluki sebagai arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar